Selasa, 16 November 2010

Lasminingrat, Perempuan Hebat dari Garut

Bicara tentang pionir pendidikan untuk perempuan di Jawa Barat, sosok yang langsung terbayang adalah Raden Dewi Sartika. Tapi ternyata, sebelum Dewi Sartika berkiprah, Jawa Barat sudah punya sosok perempuan hebat. Beberapa kalangan bahkan menyebutnya sebagai perempuan intelektual pertama di Indonesia.
Perempuan itu adalah Raden Ayu Lasminingrat. Saya cukup beruntung karena mempunyai buku Kajian Tentang Perjuangan Raden Ayu Lasminingrat yang ditulis oleh Nina Lubis. Buku ini memang tak beredar luas karena dibuat saat Lasminingrat diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional.
Lasminingrat lahir di Limbangan, Kabupaten Garut tahun 1843. Saat itu, Garut masih bernama Kabupaten Limbangan. Ia adalah putri dari Penghulu Limbangan Raden Haji Muhammad Musa dan sastrawan Sunda Raden Ayu Ria. Orang tuanya memberi nama putrinya Nyi Raden Lasminingrat. Sebagai seorang putri pejabat tinggi kabupaten, Lasminingrat bisa mengenyam pendidikan yang layak. Apalagi ayahnya juga sangat memperhatikan pendidikan putra-putrinya.
Lasminingrat kemudian dikirim oleh ayahnya untuk tinggal di Sumedang di rumah ipar lelaki Levyssohn Norman seorang kontrolir. Levyssohn adalah Sekretaris Jendral Pemerintah Hindia Belanda. Sempat tinggal di Sumedang ternyata membuatnya menikah dengan Raden Tamtu, putra Bupati Sumedang Pangeran Sugih. Namanya pun berubah menjadi Raden Ayu Lasminingrat.
Sayang, pernikahannya tak berlangsung lama karena Raden Tamtu meninggal dunia. Lasminingrat kemudian pulang ke rumah orang tuanya. Dan tak lama kemudian, ia menikah dengan Bupati Limbangan RAA Wiratanudatar dan sejak 1871 Lasminingrat tinggal di Pendopo Kabupaten Limbangan di Garut.
Sejak itulah Lasminingrat mulai berkarya. Tahun 1875, ia menerjemahkan ke dalam bahasa Sunda karya Christoph von Schmidt, Hendrik van Eichenfels yang diberi judul Tjarita Erman (Carita Erman). Buku ini bercerita tentang seorang anak bermana Erman. Erman adalah putra seorang petinggi kerajaan yang kemudian diculik oleh seorang nenek yang membawanya ke gua. Di dalam gua, ia bertemu dengan gerombolan penjahat. Lalu Erman bisa melarikan diri dan bertemu dengan seorang kiai. Bersama kiai itulah Erman mendapatkan pengetahuan tentang alam semesta dan Sang Pencipta.
Di tahun 1876, Lasminingrat menterjemahkan buku Vertelsels uit het Wonderland voor Kinderen, Klien en Groot karya Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur. Buku itu diberi judul Warnasari atawa Rupa-rupa Dongeng. Lalu tahun 1887 terbit Warnasari jilid II. Inilah yang membuat Lasminingrat disebut sebagai perempuan intelektual pertama di Indonesia. Karena ia menjadi pelopor penulisan buku-buku. Menurut Nina, hingga saat ini, belum ditemukan sumber sejarah yang menyebutkan nama perempuan lain yang sudah melakukan hal ini pada tahun 1875.
Lasminingrat ternyata mempunyai hubungan dengan Dewi Sartika. Dewi Sartika, sempat tinggal di Cicalengka setelah ayahnya, Patih Bandung Raden Rangga Somanegara dibuang ke Ternate karena diduga terlibat dalam percobaan pembunuhan Bupati Bandung RAA Martanagara. Di Cicalengka, Dewi Sartika berkenalan putri Lasminingrat, Raden Ayu Mojaningrat yang kala itu menikah dengan Wedana Cicalengka, R Suriatanuningrat.
Dewi Sartika kemudian pulang ke Bandung dan berniat membuka sekolah untuk perempuan. Namun, tidak mudah untuk mendapatkan bantuan dari Bupati Bandung kala itu karena kejadian sebelumnya. Atas campur tangan Lasminingrat yang memberi tahu suaminya, dan kemudian suami Lasminingrat melobi RAA Martanagara, maka Sekolah Istri bisa didirikan tahun 1904.
Di Garut, Lasminingrat pun membuat hal serupa. Tahun 1907 Sekolah Kautaman Istri didirikan. Tempat belajarnya untuk pertama kali adalah di tempat ruang gamelan Pendopo kabupaten. Tahun 1911, ruang sekolah tak lagi numpang di Pendopo. Tapi pindah ke bangunan khusus untuk sekolah di Jalan Kautamaan Istri yang tahun 1950 berubah menjadi nama Jalan Ranggalawe.
Kautamaan Istri pun sempat berubah nama beberapa kali. Menjadi Sekolah Rakyat pada zaman Jepang, kemudian tahun 1950 menjadi SDN Ranggalawe I dan IV. Terakhir, nama sekolah tersebut menjadi SDN Regol VII dan X. Nina Lubis menuturkan, beberapa meubeleur seperti lemari dan meja peninggalan Lasmingingrat masih tersimpan di SDN Regol.
Setelah suaminya pensiun dari jabatan Bupati tahun 1915, Lasminingrat dan keluarga pindah ke sebuah rumah di Regensweg yang sekarang Jalan Siliwangi. Tapi akan sia-sia jika sekarang mencari rumah mana yang pernah dihuni Lasminingrat dan suaminya setelah pensiun. Karena rumah tersebut kini sudah berganti menjadi departement store di Jalan Siliwangi.
Rumah tersebut ditinggalkan Lasminingrat saat mengungsi ketika perang kemerdekaan. Rumah itu lalu dipakai sebagai markas Tentara Republik Indonesia. Ketika kembali dari pengungsian, ia memilih tinggal di sebuah rumah di Jalan Tangsi. Lasmingingrat berpulang 10 April 1948 dan dimakamkan di belakang Mesjid Agung Garut.
Nama Lasminingrat selalu mencuat ketika ada pengajuan pahlawan nasional. Namun, kabar terakhir dari Nina Lubis, Lasminingrat tak juga disetujui menjadi pahlawan nasional. Bahkan, tambahnya, sekarang ada peraturan seseorang tak boleh diajukan lebih dari dua kali. “Lasminingrat sudah tiga kali,” ujarnya.
Meski tak dinobatkan sebagai pahlawan nasional, toh jasa Lasminingrat untuk pendidikan terutama di Garut tetap akan selalu dikenang. Mungkin, jika Anda suatu saat belanja di satu departement store di Jalan Siliwangi Garut, Anda bisa mengingat. Bahwa di tempat ini, dulu seorang perempuan hebat pernah tinggal.

6 komentar:

  1. Allah lah yg akan membalas smua jasa2 nya....amiin amiin amiin yra....

    BalasHapus
  2. assalamu'alaikum, boleh potokopi tidak? saya sedang membuat karya ilmiah ra lasminigrat, mohon email purnama_pnp@yahoo.com

    BalasHapus
  3. Iya sih, kaya gi punya jasa ni pahlawan (tidak bermaksud menghina. JANGAN FITNAH DOSA!!!!) Tapi sebenarnya jasanya bisa dirasakan di dalam hati kita

    BalasHapus
  4. Iya sih, kaya gi punya jasa ni pahlawan (tidak bermaksud menghina. JANGAN FITNAH DOSA!!!!) Tapi sebenarnya jasanya bisa dirasakan di dalam hati kita

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Boleh tanya gx ya..
    Kira2 tentang RA Lasmininggrat ini udah ada di Arsip nasional belum ya ?

    BalasHapus