Kamis, 18 November 2010

Saksi dan Pelaku Gestapu, Menguak yang Tak Terungkap

Perjalanan bangsa Indonesia pernah diwarnai sejarah kelam. Di satu malam di tahun 1965, enam perwira tinggi dan seorang perwira menengah diculik dan kemudian dibunuh. Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan nama G30S/PKI atau Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh).
Ketika zaman orde baru, sejarah tentang Gestapu satu versi. Versi penguasa disebarluaskan di sekolah hingga kemudian dibuat film. Baru kemudian setelah Soeharto lengser, para pelaku sejarah mulai bersuara. Terlebih, mereka yang sempat mendekam di tahanan karena digolongkan sebagai orang ‘kiri’ dibebaskan. Sebenarnya, dulu saya tidak terlalu peduli versi mana yang benar. Terlebih, versi orde baru sudah begitu menancap di otak. Namun, saat kuliah, hal ini menggelitik saya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Buku yang saya baca ini judulnya Saksi dan Pelaku Gestapu, Pengakuan Para Saksi dan Pelaku Sejarah Gerakan 30 September 1965. Buku ini diterbitkan oleh Media Pressindo tahun 2005. Dalam buku ini, dimuat kesaksian pelaku dan juga saksi dari mereka-mereka yang secara langsung terlibat maupun menjadi saksi mata tragedi ini.
Di antaranya adalah Soeharto, orang yang sesaat setelah Gestapu memegang peranan penting. Ia kemudian menjadi presiden Indonesia. Kemudian ada juga Mayjen Thahir yang menjabat sebagai Perwira Pelaksana Team Pemeriksa Pusat (Teperpu) Kopkamptib 1966-1973. Thahir saat itu memeriksa tokoh PKI yang dianggap sebagai penggerak kudeta.
Ada juga pengakuan dari Buntoro yang saat itu bertugas menjemput S Parman. Kemudian Serka Bungkus anggota Resimen Cakrabirawa yang tugasnya “menjemput” Mayjen MT Haryono. Lalu Kolonel Latief Dan Brigif I Jayasakti yang dianggap sebagai dalang utama Gestapu. Namun yang mengejutkan adalah pengakuan Latief yang sempat bertemu Soeharto dua kali sebelum Gestapu terjadi. Pertama saat Latief berkunjung ke rumah Soeharto pada 29 September. Saat itu, Latief menanyakan soal Dewan Jendral.
Kedua, pada 30 September atau beberapa jam sebelum penculikan dilakukan. Mereka bertemu di RS Gatot Subroto karena Soeharto kala itu sedang menunggui Tommy Soeharto yang tersiram sup panas. Saat itu, Latief memberitahu akan ada gerakan menghadapkan tujuh jenderal kepada presiden. Saat itu Soeharto hanya manggut-manggut. Bahkan Soeharto bertanya siapa yang memimpin. “Saya jawab, Letkol Untung,” kata Latief. Bahkan, dalam pledoinya, Latief menyebutkan Soeharto terlibat G 30 S.
Lain lagi pengakuan Letjen (Purn) Kemal Idris. Pascatragedi, ia aktif menangkap anggota PKI di Pati, Blora dan daerah lainnya. Namun, akhirnya ia juga menduga jika Soeharto memang terlibat dalam G 30 S. Ini karena ia tahu jika Latief sebelum G 30 S ternyata menghadap Soeharto. Ditambah fakta jika Letkol Untung dan Latief pernah menjadi bawahan Soeharto di Kodam Dipenogoro. Pengakuan ini juga dituturkan Kemal di buku Hoegeng yang diterbitkan oleh Bentang.
Apalagi, tutur Kemal, Soeharto saat PKI memberontak tahun 1948 di Madiun, pernah ditangkap oleh Siliwangi. Beruntung Jenderal Soedirman memerintahkan Siliwangi untuk melepaskannya. “Pasti ada hubungannya dengan PKI. Mengapa dia tidak dibunuh di sana oleh PKI? Jadi, dalam benak saya dan saya hubungkan dengan sikap dia menghadapi PKI Madiun, Soeharto mungkin terlibat,” tuturnya.
Selain mereka, ada pengakuan dari saksi lainnya. Baik itu keluarga korban maupun orang-orang yang ‘diseret’ masuk untuk menjadi pelaku Gestapu. Seperti yang dituliskan di kalimat terakhir oleh penerbit dalam prolognya, Mudah-mudahan hanya sekali saja negeri ini mengalami tragedi seperti tahun 1965.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar